Bebas Hambatan

Kebahagiaan ada pada kebebasan…

Boleh kenalan?

Boleh, anda siapa?…

rang gila yang mencari jalan
waras lewat anda.

Memang penting bertele-tele
begitu?

Bertele-tele?
Kupikir cara terbaik untuk menjalani hidup ini adalah dengan tidak sok serius?

Siapa juga yang sok serius…
saya hanya bertanya, anda siapa, katanya mau kenalan…

Tapi
sulit menjawab pertanyaan anda… siapa saya? Entahlah, saya juga tidak tahu
persis…

Sok misterius.

Apa kurang wajar bila ada
orang yang tidak mengenal dirinya sendiri?

Sangat, mana mungkin anda bisa
berkenalan dengan orang lain.

Terus…?

Belajar
saja dulu untuk mengenal diri anda, setelah itu baru kita lanjutkan perkenalannya…

Saya
adalah malam yang tersesat dalam kekosongan jagat, maka ijinkan saya menjadikan
anda sebagai bintang penerang kegelapanku… bila tidak diijinkan, kurasa anda mengingkari kesempurnaan ciptaan dan juga
penciptanya.

Tidak dibalas.

Atau
mungkin karena hijab keangkuhan yang belum tersibak, kuharap tidak ada dosa di antara kita, agar momen yang tepat bisa
datang sekali lagi.

Tidak dibalas

Andai pun ada, semoga masih bisa terhapus oleh pesona ketulusan anda.

Tidak dibalas.

Sambungan tidak tersedia.

“Dasar orang kurang kerjaan”.

Runi bergumam.

Ia lalu mematikan
komputernya, ia harus segera tidur. Jam alarm diatur agar jam dua nanti bisa
bangun untuk shalat tahajjud.

Malam berikutnya…

Karena
perubahan adalah kemestian, kuharap malam ini lebih baik daripada malam kemarin.

Dalam hal apa?

Terutama dalam hal cara kita
berkomunikasi.

Semua
tergantung pada anda. Jika anda menawarkan kebaikan, kupikir saya sangat
membutuhkannya.

Kebaikan? Ukurannya apa?

Salah satunya adalah
kejujuran… kupikir anda adalah orang yang kurang jelas.

Dalam
banyak hal, kenyataanlah yang membohongi ide kita. Penilaian akan kembali pada
mereka yang menilai.

Bagi saya itulah kebaikan.

Apakah saya harus mengamini
pernyataan anda?

Tidak
juga. Anda boleh membuat pernyataan lain lalu mencari orang lain untuk diajak
berkomunikasi.

Sepertinya
anda cukup sensitif, baik… namaku Kaka
Palewai berbintang Libra, prinsipku hidup tak perlu prinsip.
Semoga cukup…

Sepertinya tidak, alasan
perkenalan ini?

Anda
kelihatan seksi dengan memakai jilbab. Kaca mata anda, kupikir anda telah
membaca ratusan judul buku.

Tidak dibalas.

Karena
hidup adalah pilihan, kita boleh memilih untuk tersenyum atau tidak, memilih
untuk bernyanyi atau berteriak, menjadi Kristen, Islam atau Ateis sekali pun.
Tapi di balik pilihan itu, ada satu hal yang mesti dilakukan “mempertanggung jawabkan segala pilihan itu” agar tidak
menjadi pecundang dan pengagum simbol-simbol kemunafikan.

Butuh waktu untuk mencerna
kata-kata anda. Waktunya tidur, Runi sudah ngantuk.

Dan saya tidak punya hak
untuk menghalangi anda.

Dua
puluh jemari sebagai pengganti lisan, tuts-tuts terus ditekan, sebelum akhirnya
Kaka Palewai dan Runi kembali
ke dunia masing-masing.

“Lumayan baik”.

Runi tersenyum sendiri…

“Astagfirullahhaladziim…” lalu kembali gelap.

Tentang Runi

Jumlah anak putus sekolah dan
buta huruf yang makin tinggi, membuatnya selalu sibuk di kantor. Mencari,
memproses, dan mengirim data. Menyusun agenda pimpinan atau membuat laporan
bulanan adalah pekerjaan rutin yang kadang membuatnya tetap di depan komputer,
meski teman-temannya telah beristirahat. Pekerjaan yang humanis, namun kadang
membosankan, apalagi bila mengingat status Runi yang masih gadis. Bagaimana pun, pendidikan adalah sangat penting buat
mereka. Agar mereka tidak terjajah oleh jaman. Runi bekerja pada sebuah lembaga
swasta yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak putus sekolah lewat pendidikan informal.

“Kita harus menyediakan
jembatan, agar mereka dapat menemui masa depan yang cemerlang.”

Kata itu adalah ucapan pimpinan yang selalu
memberi motivasi pada Runi dan teman-temannya.

Tapi bukan kerena tidak
memiliki kesempatan untuk ke luar rumah lalu membaur pada lingkungan yang mulai
terkontaminasi dengan virus modernisasi,
sehingga Runi menghabiskan sisa-sisa waktu di kamarnya yang sempit namun sering dianggap sebagai istananya.

“Jaman boleh berubah, arusnya
boleh sederas Niagara, tapi haram untuk menggoreskan noda pada dinding prinsip
yang telah dibangun, sekecil apa pun.”

Bagi Runi, perempuan dituntut
untuk menjaga diri dengan sebaik mungkin. Banyak waktu di luar rumah, sama
halnya menyediakan banyak kemungkinan untuk mendapatkan cela. Runi bukan seorang pengagum
gender radikal. Lebih baik tunduk pada hukum peternalistik, daripada harus
menuai resiko besar.

“Sangat naif bila keagungan ditukar dengan kesenangan sesaat.”

Runi semakin Ayu dengan
senyumnya. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas ikrar syahadatnya, Runi tak
pernah meninggalkan shalat lima waktu. Hari senin dan kamis adalah hari dimana
ia melaksanakan puasa sunat. Bila pun tidak ada yang sempurna, setidaknya Runi
terus menempa diri agar dapat mendekati titik kesempurnaan itu. Banyak tangan
cinta yang mencoba menyentuh hatinya, tapi tidak ada dua cinta dalam satu hati.
Runi telah mengisi hatinya dengan satu cinta.

Pernikahan, pacaran, bahkan
perselingkuhan yang mengatasnamakan cinta… untuk sementara Runi tidak tertarik
untuk membahasnya.

Andai bisa disaksikan, pasti
angkasa telah bertaburan dengan doa-doa yang sama “Ya Tuhan, Jadikanlah Runi
sebagai pendamping hidupku.”

Runi beruntung dengan apa
yang dimiliki. Orang-orang yang mengenalnya juga beruntung. Meski hanya dalam
dunia maya, Kaka Palewai merasakannya…

Dunia maya memang sering
dikunjungi oleh Runi. Selain menambah referensi, juga merupakan cara yang baik
untuk menyegarkan otak serta otot jiwanya yang letih setelah seharian bekerja
dikantor. Di sini,
Runi bisa berinteraksi dengan banyak orang.

Bagaimana pun, hidup akan naïf bila hanya diisi dengan hal-hal yang
monoton, seperti putaran jarum jam yang membosankan. Selain bergelut dengan
segala rutinitasnya di kantor, Runi masih butuh warna lain, sebagai pengisi
lembaran hari-harinya.

“Selama bisa menjaga batas”
katanya.

Seseorang yang bernama Kaka Palewai, yang
akhir-akhir ini sering mengirimkan pesan, menggugah rasa penasaran Runi. Entah
berjalan di atas rekayasa atau mengalir lewat proses yang alami, Runi dan Kaka
Palewai mulai menjadi dua orang yang cukup akrab. Signal-signal mencurahkan
banyak hal diantara mereka.

“Siapa orang dibalik itu…”

Ucap Runi dalam hati ketika kembali
menyalakan komputernya.

Nenek
moyang kita tidak pernah masuk di sini, tapi mereka selalu dihibur oleh
bunyi-bunyi air yang menuruni tebing-tebing berbatu serta kicauan burung yang
luar biasa merdunya. Perbedaan hanya terletak pada cara kita mendapatkan
kebahagiaan… kita tidak perlu risau dengan derasnya arus perubahan.

Anda pengagum determinisme.

Kadang-kadang
iya tapi kadang-kadang juga aku sangat membencinya. Karl Marx dan dan begitu juga Netzhe
telah mati, di sini kita boleh membuat isme baru.

Anda kurang konsisten.

Tidak
konsisten? hahaha… sepertinya itu bisa dijadikan isme baru, paham ketidak-konsistenan,
paham yang tidak memerlukan paradigma.

Dan tidak didasarkan atas
ideologi… apa kata dunia…

Dunia
akan memberi salam kemerdekaan, kerena ideologi-ideologilah yang mencetak
sejarah panjang penjajahan dalam kehidupan manusia.

Kalau
asumsi anda berlaku untuk semua ideologi anda salah. Nabi Muhammad justru
datang untuk mengakhiri dehumanisasi.

Bagaimana kalau yang kumaksud
kecuali itu.

Tetap
saja salah. Menjajah dan dijajah, sudah bukan wacana yang baik untuk dibahas,
banyak orang yang ingin menjadi pahlawan, tapi rasa terjajah mana yang bisa
dibebaskan.

Perasaan terjajah telah
dijinakkan dengan hegemoni?

Hegemoni…?
Semoga anda bukan Iblis yang menggoda keimananku… hahaha, hmmm, maaf bercanda.

Bercanda?…
demi cinta, tetap saja tidak dimaafkan… Padahal
sekarang saya menggantikan peran malaikat yang telah bersusah payah
menyelamatkan iman-iman manusia yang kesetanan.

Bersumpah atas nama
cinta…

Daripada dengan menyebut nama Tuhan atau nama ibuku… tidak.

Perbedaannya adalah Kaka
Palewai tidak menyuguhkan pesan-pesan melankolis picisan, seperti yang sering
diterima oleh Runi.

Jari-jari Runi tidak
bergerak, tak ada pesan yang dikirim. Bukan karena Runi tidak menikmatinya.

Dalam pahaman saya diam
adalah titik gerak yang paling bermakna.

Saya sedang berfikir untuk
bertemu dengan anda. Bagaimana?

Apakah anda tidak  merasa kalau sekarang kita sedang bertemu?

Saya merasa kalau mukaku
sedang diperciki air yang entah dari mana
datangnya.

Sejuk ?

Lumayan?

Hahaha,
kalau anda berfikir tentang air, semoga anda
tidak menyimpulkan diriku sebagai air yang bening.

Saya
tidak berani menyimpulkan apa pun
tentang diri anda. Pertemuan ini abstrak, salahkah bila saya ingin bertemu anda
di dunia yang lebih konkrit.

Tidak dibalas.

Anda hebat, anda seperti
perpustakaan, saya ingin masuk walau hanya sebentar.

Tidak dibalas

“Mengapa orang itu tidak
memenuhi permintaanku” gumam Runi.

Padahal tidak banyak lelaki
yang bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan Runi.

“Saya
lagi sibuk, saya letih, lain kali saja”, demikian yang sering diucapkan Runi ketika orang-orang mengajaknya jalan bersama.

Boleh ya?

Tidak dibalas.

Tentang Kaka Palewai

Begadang sampai larut malam, tapi masih bisa bangun pagi-pagi, bukan kerena tuntutan
pekerjaan yang menumpuk, tapi karena sesuatu tidak beres di lambung yang sudah
cukup lama dan sepertinya belum akan berakhir. Minum obat adalah pekerjaan yang
tidak menarik, tapi rasa perih juga jauh lebih
tidak menarik untuk dinikmati. Kadang-kadang Kaka Palewai ingin memuntahkan
segala organ-organ yang ada dalam tubuhnya, terutama bila ia semakin jijik
dengan hidupnya. Mengapa masa depan selalu menjadi alasan
untuk mempersulit hari
ini. Mengapa cinta selalu
disimbolkan dengan setangkai mawar atau setangkai anggrek. Lebih baik mencabuli waktu, atau mengasah pedang, sebab detik ini jauh lebih bermakna dari sewindu masa
yang tidak jelas.

Membaca buku yang tebalnya
seukuran delapan jari-jari, kadang membuatnya lupa bahwa realitas jauh lebih
penting dari semilyar teori. Meng-olahragakan pikiran dengan berenang di
samudera Pasifik, bersama kausalitas Aristoteles dan positivisme Coumte, malah
semakin membuat kulitnya semakin pucat dengan daging yang kian menyusut.  Tapi Kaka Palewai seperti camar yang dikuatkan dengan sayap kebebasan.

Menangis adalah bunyi lonceng
kematian, sementara senyum adalah simbol kehidupan abadi. Pasrah adalah pilihan
menjadi bangkai dengan tetap bernafas. Sementara sabar adalah isyarat dan kidung perjuangan hidup
yang benar-benar hidup.

Setiap orang berhak menjadi
seniman, walau hanya dengan sebuah lubang tindih di telinga, atau segaris tato
di betis dan di lengan. Jaman tak perlu disumpahi
dengan penyesalan, setiap orang memang terlahir dengan tubuh telanjang dan
ketakberdayaan.

Bila memang harus menjadi
gila, tak perlu berperan sebagai manusia yang sok waras dengan memakai dasi dan sepatu kulit mengkilap. Meski terlahir dengan sejuta
perbedaan, setiap orang berhak mendapatkan keadilan. Prajurit tidak lebih hina
dari seorang kaisar. Semua manusia adalah faktor yang penting dalam untaian
rantai kehidupan. Kaka Palewai pantang menjadi pengemis nilai bagi orang-orang
di sekelilingnya.

“Berteriaklah apapun
tentangku, sampai kerongkongan kalian berdarah, Kaka Pelewai akan tetap menjadi
Kaka Palewai…” Dia adalah seorang pengangguran.

Tapi Kaka Palewai apalagi Runi, tak berhak
mendikte tulisan ini. Komputer kembali dinyalakan.

Bukan
tentang apa yang kita nikmati, tapi tentang bagaimana dan dengan siapa kita
menikmatinya.

Kupikir ini cukup indah untuk
dinikmati.

Apakah itu berarti ini telah
cukup?

Sepertinya tidak… seperti
yang kuminta kemarin, aku ingin bertemu dengan anda.

Hehe,
sebenarnya aku pun punya keinginan yang sama. Aku ingin bertemu dengan anda,
berbicara dengan tema-tema kehidupan yang lebih pasti. Aku ingin duduk berdua
dengan anda di sebuah taman, mendengarkan lagu-lagu balada yang dinyanyikan
oleh anak-anak pengamen di sana. Sungguh aku ingin bertemu dengan anda… tapi…

 Tapi mengapa?

Tapi jangan
salahkan saya bila tidak pernah ada pertemuan di antara kita, salahkanlah penulis yang kehabisan ide untuk mempertemukan kita.

Oh iya, aku mulai paham, dasar penulis amatiran yang menjadikan kita sebagai
kelinci percoban
dalam ide sempitnya, bahkan
ini tak pantas disebut cerpen…