Cinta dan Iman

Hampir tidak ada yang berarti malam itu, malaikat-malaikat
enggan turun ke bumi. Terlalu banyak masalah di sana. Terlalu banyak manusia
yang mengeluh. Dunia selalu bising oleh rintihan dan ratapan. Mereka tidak
pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Kantong-kantong naluri tak pernah
terisi penuh.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bintang dan benda langit lainnya juga tak berhasrat menjadi
saksi atas drama kehidupan manusia. Waktu dibiarkan berputar bebas dalam garis
edar takdir para pemimpi dan perajut asa. Potret kehidupan pada detik itu,
sepertii lukisan abstrak dimana hikmah masih terus dipertanyakan. Ada orang
yang berhasil menemukannya, tapi sebagian besar lagi hanya terhenti pada dinding
kepasrahan.

“Mungkin demikian Sang Pencipta mengungkapkan cintanya…”

Ia bergumang setelah membuang nafas panjang yang sedari tadi
tersimpan di bilik paru-parunya. Ia lalu menyimpan beberapa lembar kertas
kosong dan sebuah pena di rak bukunya. Tak ada yang sempat ditulis. Tak ada
naskah cerita, sebagaimana yang dilakukan pada malam-malam sebelumnya.

“Waktunya makan malam nak, ibu telah menyiapkan makanan
kesukaanmu…!!!”

Tapi suara itu tidak ditanggapi. Beban pikiran menghapus
setiap giarah dalam batinnya. Rasa kecapan lidah serta suara-suara yang
menyentuh gendang telinga, tiba-tiba menjadi hambar.

“Mengapa tidak dijawab, sakit ya?”

Sekali lagi suara itu terdengar dari balik pintu kamarnya
yang tertutup rapat, namun tetap juga tidak direspon. Kali ini, suara ibu
kurang merdu untuk mengecup adrienalinnya yang sedang mati suri.

Entah apa yang dapat dilakukan dengan kondisi hati yang sedemikian pekat.

Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan. Ia membiarkan
busa menopang tubuhnnya,
sebab jiwanya terasa rapuh. Pandangannya dilempar sejauh mungkin, menembus
langit-langit kamar dan melewati batas awan-awan. Di atas nirwana yang jauh
dari hirup-pikuk kehidupan.

Di sanalah ia menemukan sosok perempuan yang selama ini
banyak mengisi cerita hidupnya. 
Kekasihnya tidak tersenyum. Di bawah salib Yesus, ia terpasung. Seluruh
tubuhnya terbalut kain putih tipis, yang kalau tertiup angin akan seperti gerak
api yang bergejolak karena membakar hutan cemara, rambutnya juga demikian.
Tatapan matanya kosong. Ia memanggil-manggil tapi hanya bibirnya yang bergerak
sebab suaranya hilang bersama kekosongan angkasa.

“Kemari… kemari…
engkaulah
yang harus mendatangi dan menetap dalam duniaku!”

“Tidak… tidak!!! Meski aku sangat mencintaimu.”

Ia memaksakan ketegarannya, mata dipejamkan tapi bayangan
itu malah semakin jelas.

Juga belum saatnya menyesal, sebab hal yang paling sia-sia
dalam hidup ini adalah penyesalan. Penyesalan hanya pantas bagi mereka yang
sedang  berada di alam kubur.

“Semua harus dipertanggungjawabkan… aku tidak ingin mati lalu
dikenang sebagai seorang pecundang,
aku harus mendapatkannya.”

Tekad dibulatkan, saat ruang hatinya semakin menyempit.

Ia adalah Idul, seorang pemuda yang berparas tampan dan
diakui oleh guru dan teman-temannya sebagai anak yang cerdas. Sebentar lagi ia
akan meninggalkan masa remajanya. Sebuah masa yang dianggap oleh banyak orang
sebagai episode hidup yang kaya dengan cerita istimewa. Masa yang kaya dengan
dinamika, manis dan prahara kehidupan. Masa remaja, adalah masa yang paling
menentukan. Bila berhasil dilewati dengan baik, maka seseorang telah
mendapatkan lebih dari separuh kesuksesan hidupnya, tapi bila menyisakan
masalah, maka akan menjadi beban berat seumur hidup. Sejatinya, masa remaja teramat
indah untuk dikenang.

Beberapa minggu lagi Idul akan mengikuti ujian akhir di
Sekolah Menengah Atas. Mestinya hari ini ia mengisi banyak waktu untuk
mempersiapkan diri dengan banyak mengulangi pelajaran di rumah. Meski termasuk
siswa favorit di sekolah, Idul
tetap harus siap menerima segala kemungkinan buruk saat pengumuman
nanti. Hasil ujian kadang-kadang berbanding terbalik dengan prestasi siswa di
kelas, barangkali ada kekeliruan sistem dalam hal ini.

Setelah tamat  nanti,
Idul punya niat untuk kuliah pada Fakultas Sastra. Minat dan bakatnya memang
menulis. Sejak tergabung dalam “lentera” sebuah organisasi di sekolahnya yang mengelolah
media penerbitan, tulisannya mulai dipuji banyak orang. Oleh teman-temannya, ia
sering dijuluki sang “Seniman Kata”. Telah banyak puisi dan naskah yang
ditulisnya, dipentaskan atau dilombakan pada even antar sekolah. Sebagian lagi
dibiarkan tetap tersimpan dalam buku diari dan file komputernya.

“Pahlawan  mengukir
namanya lewat geranat dan dentuman meriam, Ilmuan mengabadikan hidupnya lewat
penemuan ilmiah, semoga orang-orang mengenalku lewat tulisan-tulisan ini kelak.”

“Aku tidak ingin menjadi politisi, sebab kudengar dunia
politik adalah dunia intrik dan kepalsuan.”

“Aku tidak ingin menjadi pengusaha, sebab aku tidak ingin
menghabiskan semua waktuku hanya untuk menghitung keuntungan dan kerugian.”

“Aku tidak ingin menjadi tenaga
pendidik, sebab kutakut akan mencelakakan hidup banyak orang
dengan nasehat-nasehat yang belum tentu benar.”

“Aku ingin menjadi sastrawan ibu….”

Demikian yang pernah diucapkan pada ibunya saat ditanya
tentang cita-citanya.

“Kecuali menjadi koruptor, apapun yang kau inginkan akan ibu
dukung sepenuh hati. Engkau adalah satu-satunya hal yang paling berarti dalam
hidup ibu. Sejak ayahmu meninggal, kupikir kau adalah titipan yang tidak bisa
disandingkan dengan apapun di dunia ini. Kau adalah malaikat ibu. Di saat usia
semakin menghimpit, dimana otot-ototku semakin lemah, hanya engkaulah yang
kuharap bisa memapahku, mengangkatku saat terjatuh, dan menyiramkan air pada
noda-noda yang melekat ditubuhku. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana
seandainya kau tidak terlahir sebelum ayahmu pergi, pasti aku seperti ranting
kering yang tak punya harapan apa-apa. Orang-orang akan berlalu di sekelilingku, tapi mungkin
saya akan dianggap sebagai orang asing yang tak perlu disapa. Tetesan
keringatku akan terjatuh percuma,
sebab tanpamu aku hanya menanti ajal.… Kau adalah bukti
keberuntungan yang masih tersisa untukku anakku….”

Pelukan ibu seperti selimut yang mencairkan kebekuan dunia.

Tapi Idul melupakan semuanya. Satu-satunya yang mengisi
pikirannya adalah wajah perempuan itu. Ia mencintai dan juga dicintai, tapi
mengapa masalah masih saja ada. Tidak cukupkah hanya dengan cinta….

“Nyatanya tidak…”

Idul mendesah sendiri.

Perempuan yang dicintainya adalah Isty. Ia masih satu
sekolah dan satu ruangan dengan Idul. Tidak sulit untuk menggambarkan kedua
sejoli itu. Seragam putih dan abu-abu, saling teraktir di kantin dan bermain basket di
lapangan sekolah, atau memanfaatkan momen kerja kelompok untuk saling bertemu.
Wali kelas mereka tidak perlu khawatir dengan catatan kehadiran mereka, sebab selain
pelajaran, ada alasan yang lebih penting untuk menghadirkan mereka di sekolah.
Mereka tak sanggup memikul beban kerinduan.

Bagi Idul, Isty tidak hanya cantik, tapi juga baik. Andai di
dunia ini ada manusia sempurna, maka bagi Idul, orang itu ada pada Isty.
Wajahnya cantik meski tidak dipoles dengan aneka bedak, bibirnya akan semakin
indah lewat kata-kata dan senyum ramahnya. Tapi yang paling mengagumkan, di
antara kelebihan yang dimiliki, Isty masih tampil dengan sifat sederhana dan
bersahabat pada setiap orang.

Ia seperti bidadari.

Ucap Idul setengah berbisik pada Kaddo’, teman sebangkunya.

“Biasa saja” tanggap Kaddo’agak dingin.

“Tidakkah kau lihat susunan giginya yang seperti
rangkaian  mutiara, dan rambutnya yang
seperti mahkota ratu… mana ada perempuan yang secantik dia di sekolah ini.”

“Hiperbola…”

“Bola matamu yang kurang sensitif.”

“Matamu yang kurang cerdas menilai.”

“Terserah apa katamu, yang pasti dia adalah pemandangan yang
paling indah dari yang pernah kulihat.”

“Opstsz  jangan
berisik.”

Waktu itu Isty memperkenalkan diri pada teman-teman barunya
di depan kelas. Lima bulan lalu Isty memang siswi baru di sekolah. Ia
meninggalkan sekolah lamanya di kampung asal karena mengikuti ayahnya yang
pindah tugas. Ayah Isty  adalah anggota di kesatuan militer.
Konstentrasi Idul menyimak pelajaran fisika menjadi terganggu. Yang terpikirkan
adalah bagaimana bisa berkenalan lebih dekat dan akrab dengan Isty.

Sampai akhirnya…

Momen itu pun tiba…

Saat jam istirahat di kantin sekolah, dimana dua gelas air jeruk
dan sepiring kentang goreng menjadi saksi.

Bagai
gunung es di kutub selatan…

“Kenalkan, nama saya Abdullah, sering dipanggil Idul…”

Dinginnya
membekukakan sel-sel darah…

“Kalau saya Cristyna Agata, panggil saja Isty…”

Diam…

Kosong…

Dalam
keramaian

“Boleh saya duduk di sini?”

“Iya boleh…”

Lamban
mencair

Dalam
detik-detik keabadian

“Sudah
lama tinggal di sini?… maksud saya di kota
ini.”

“Lumayan, sekitar tiga minggu yang lalu.”

“Bagaimana pendapatmu tentang kota ini?”

“Entahlah, mungkin butuh waktu untuk beradaptasi, tapi
sepertinya akan menyenangkan, kulihat orang-orang
di sini sangat ramah.”

“Mengapa pindah ke sini?”

“Kalau tidak salah, kemarin telah kukatakan di depan kelas.”

“Anggap saja ini pertama kali kita bertemu.”

“Ayahku pindah tugas, saya dan ibu juga harus pindah.”

“Sebagai bentuk pengabdian pada negara…”

“Mungkin iya, tapi mungkin juga bagian dari pengabdian
kepada ibu
dan anaknya.”

“Pengabdian lahir dari rasa tanggung jawab, pasti ayahmu
adalah orang yang bertanggung jawab… dan itu juga berarti kau memiliki seorang
ayah yang baik.”

“Memang baik, setiap detik saya merasakannya.”

“Bagaimana denganmu?”

“Ayahku juga baik, tapi sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya.”

“Kalau begitu saya minta maaf.”

“Apanya yang salah.”

“Aku merasa telah membuatmu sedih dengan mengenangnya.”

“Saya tidak pernah menganggapnya sebagai kesedihan, sejak
kecil ibuku sering mengatakan kalau ayah telah pergi ke surga, mungkin di sana
ia sedang menikmati kopi pahit kesenangannya.”

Lalu
semua cair dan larut dalam keakraban.

Mereka terlihat seperti
sudah lama saling mengenal. Mereka menyelami kedalaman
samudera rasa, tapi mereka lupa membawa oksigen yang bernama logika.

Perbincangan di kantin sekolah, menjadi awal dari cerita
istimewa mereka. Tanpa disadari, mereka berjalan memasuki sebuah dunia dimana
pikiran tidak bisa berteori, pasang surut perasaan mematahkan segalanya.
Perjalan itu semakin jauh seiring dengan berjalannya waktu. Tapi semakin jauh
mereka berjalan, rasanya semakin gelap kisah yang ditempuh. Komitmen yang tidak diucapkan lewat
lisan, tapi hati bisa merasakan, betapa keduanya telah terikat dengan tali
impian yang sama. Mereka tidak ingin terpisahkan.

Idul dan Isty menyebutnya sebagai cinta. Meski pertama kali
merasakan, tapi gejolaknya sangat jauh dari ukuran coba-coba. Entah mengapa
bisa seserius itu. Usia mereka masih belia, ucapan mereka terlalu lugu untuk
dipertanggungjawabkan, cita-cita dan perjalanan hidup mereka masih sangat
panjang. Mungkin sedikit naïf, terutama bila melihat-teman mereka yang justru
menganggap kalau cinta tidak lebih dari sekedar permaianan, pelengkap, atau
pembicaraan ringan yang tak punya arti bila dibandingkan dengan mendiskusikan
teori atom atau mengulas teori evolusi.

“Tapi saya sangat mencintainya…”

Untuk kesekian kalinya Idul mendesah. Bantal guling dan
kepalanya menjadi pelampiasan atas ketersiksaannya. Sementara malam semakin
hening, jam digital di sampingnya menunujukkan angka satu. Suara televisi di ruang keluarga dan
kendaraan juga telah menyepi.
Tapi Idul tidak ingin tidur, sebelum ia memastikan kalau esok ia akan mematahkan
keyakinan Isty.

***

Dari sekian banyak persamaan antara Isty dan Idul, ada satu
perbedaan yang tidak bisa didamaikan. Mereka berdiri di antara dua keyakinan yang
berlaianan. Idul adalah penganut agama Islam, sementara Isty terlahir sebagai
umat Kristen. Perbedaan yang dulu diabaikan dengan alasan cinta, lalu menjadi
batu sandungan juga atas alasan cinta.

“Haruskah saya mengakhirinya….

“Isty adalah kebahagianku, apakah tidak munafik bila saya
menghapusnya.”

Mereka pernah merasakan betul indahnya cinta. Perbedaan
agama bukanlah alasan untuk menutup pintu perasaan. Idul berzikir di Masjid,
sementara Isty memuji Tuhan di Gereja. Doa mereka satu, semoga bisa hidup selamanya
dalam cinta.

“Mungkin perbedaan ini tidak perlu kita risaukan, Tuhan kita
sama-sama baiknya, pasti mereka merestui
cinta kita.”

“Tuhanku, telah menebus seluruh dosa manusia.”

“Tuhanku menjanjikan surga bagi seluruh manusia.”

“Atau jangan-jangan kita menyembah tuhan yang sama tapi di
tempat yang berbeda.”

“Sangat jauh dari kemampuan pikiran kita, menurutku ini
adalah misteri besar yang
tidak mungkin disibak oleh siapa pun.”

“Iya, ulangan
di sekolah saja tidak beres, padahal soal-soalnya masih dibuat oleh Bapak dan
Ibu guru kita.”

“Tapi ulanganku beres semua.”

“Iya… iya… kamu memang Abdullah,
siswa yang paling cerdas di dunia.”

“hahaha…ha..”

Kalau sedang bersama, pasti senyum dan tawa selalu menghias
di bibir mereka. Usia yang belia masih memberi warna yang jelas pada karakter
mereka, polos dan jenaka. Tapi demikianlah mereka menjalani keseriusan cinta.
Bila akhirnya perbedaan itu mulai dirasakan sebagai momok, mungkin sebagai
bukti atas berjalannya proses pendewasaan di antara mereka. Pematangan sikap,
emosi, dan pikiran masih terus bergerak menuju titik kulminasinya, cintalah
yang mengantarnya dengan lebih cepat, sadar atau tidak disadari.

***

Di bawah pohon mangga yang sedang berbunga, di atas balai
bambu tempat anak sekolah sering bersuka ria menunggu angkutan umum atau jemputan
dari rumah masing-masing.

“Entah mengapa saya merasa kalau hubungan kita mulai terjadi
masalah. Saya mulai ragu kalau orang tua kita akan merestuinya.”

Kata-kata itu keluar dari mulut Idul dengan sangat pelan
namun sangat jelas dalam pendengaran Isty. Ia seperti berada di dalam kubur,
malaikat-malaikat akan menghukum atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Tapi
hukuman apa yang pantas untuk sebuah cinta yang di bangun atas dasar ketulusan.

Mendengar ungkapan Idu, Isty terbang dengan sayap
imajinasinya, menemui ayahnya yang sedang duduk di teras rumah sambil
mempermainkan asap cerutu yang mengepul dari mulut dan lubang hidungnya.

“Tidak, saya
tidak bisa menerima kalau putriku mencintai lelaki yang tidak sekeyakinan
denganku.”

“Tapi kami saling mencintai.”

“Dalam hidup ini, keyakinan tidak bisa dikompromikan dengan apapun.”

“Apa itu termasuk cinta?… bagaimana bila ayah berada dalam
posisi ini?”

“Persetan dengan cinta, tidakkah kau merasa kalau Yesus
Kristus telah mencintai kita, lebih dari cinta apapun… saya tidak pernah berada
dalam posisi itu,
sebab saya tidak sudi mencintai perempuan yang beragama lain.”

“Ayah pasti tidak bisa menerima hal ini.”

Isty terus saja terdiam, dan Idul mengamati kekasih hatinya
itu dengan cemas.

“Mengapa kamu terdiam?” tanya
Idul pelan.

“Aku sedang memikirkan kata-katamu, saya juga berfikir
demikian, perbedaan ini sangat sulit menyatukan kita” ungkap Isty.

“Aku mencintaimu dan kuharap kau juga demikian.”

 Idul kembali
berbicara seperti ingin mempertegas hubungan mereka.

“Iya, mungkin kita tidak perlu bersumpah untuk itu” timpal Isty.

“Akan sangat baik bila kita mencari solusi atas masalah ini.”

Kedengarannya Idul mencoba bijak, tapi Isty hanya
menyambutnya dengan diam.

Berfikir, menghayal, mengandai-andai, bercampur menjadi
kebingungan yang menggunung. Mungkinkah bisa mengambil keputusan tanpa harus
mencederai dua hal yang sama-sama sangat dihargai, cinta dan keyakinan.
Kadang-kadang hidup seperti tiang gantung, manusia menjadi tumbal atas hasrat mereka
sendiri. Bila tidak disikapi dengan bijak, pilihan hanya menggiring manusia
menuju titik nadir ikhtiarnya.

Ini bukan soal matematika yang bisa diselesaikan dengan
rumus dan deret angka, juga bukan soal bahasa yang memainkan kata dan metafora.
Isty dan Idul mencoba memahami itu.

“Dapat?” tanya Isty.

“Tidak… kamu?” Idul balik bertanya.

“Belum” jawab Isty.

“Susah…” Idul mendesah.

Suara pipit yang beterbangan dan sesekali hinggap di
ranting-ranting mangga, seperti menyanyikan kidung semangat bagi kedua anak
muda itu. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Burung pun punya
cinta, bila terbang pasti akan kembali. Meski bisa terbang ke mana pun, tapi
menemui sarang yang telah dibangun atas jerih payah mesti dilakukan sebagai
bentuk kesetiaan pada pilihan.

“Dapat?” Isty kembali bertanya.

“Iya, tapi sedikit” jawaban
Idul
ringkas.

“Yang sedikit itu apa?”

Isty memburu, butiran gairah menghias wajahnya.

“Kita harus kembali menemui orang tua kita masing-masing” jawab Idul.

“Lalu…?”
butir-butir
semangat berganti cemas di wajah Isty.

“Kita akan meminta pertimbangan mereka atas hubungan kita,
aku yakin mereka punya cara untuk tidak mengecewakan anaknya” tegas Idul.

“Tapi saya ragu dengan hal itu, saya tahu persis karakter
ayahku.”

Isty kurang sepakat dengan kata-kata Idul.

“Sudahlah, masalah ini bukan cuma masalah kita. Biarlah kita
titipkan cinta kita pada kedewasaan dan kebijaksanaan mereka. Siapa lagi yang
bisa memberi nasehat kepada kita kalau
bukan mereka.”

Idul mencoba meyakinkan Isty. Sebelum dewasa, separuh nafas
kita masih tertahan dikerongkongan orang tua kita. Mereka punya ketulusan
sejati, mereka terlepas dari kepentingan hidup kita.

“Kita dan hubungan ini akan baik-baik saja, percayalah.”

Idul menggenggam tangan isty, mereka berusaha saling menguatkan,
meski dalam hati tersimpan keraguan yang sangat dalam.

Selanjutnya Isty hanya bisa mengangguk. Ia harus percaya
pada kata-kata Idul. Tiga hari ke depan, mereka akan kembali ke tempat yang
sama untuk membicarakan tanggapan orang tua mereka masing-masing. Tentu saja
mereka berharap agar jemari Tuhan akan terulur dan membelai jiwa orang tua
mereka. Sementara dalam hati Idul dan Isty, mungkin juga dalam hati banyak
orang, terselip sebuah pertanyaan.

“Bila Tuhan itu satu mengapa ia menampakkan diri secara
berbeda di masjid, di gereja, atau di kuil, bukankah perbedaan itu yang memunculkan
banyak alasan untuk pertumpahan darah dengan klaiman kebenaran dan paradigma
yang egois. Atau mungkinkah Tuhan memang banyak, sebanyak keyakinan dan
kepercayaan manusia, lantas Tuhan mana yang paling berkuasa atas takdir manusia.”

***

Kembali di bawah pohon mangga yang sedang berbunga, di atas
balai bambu.

“Apa yang dikatakan orang tuamu?”

Kali ini Idul tidak ingin didahului oleh Isty untuk
bertanya.

Wajah Isty bagai bulan kesiangan. Bibirnya seperti enggan
untuk menjawab, meski akhirnya beberapa kata terucap juga dari bibirnya.

“Orang yang mencintai dan kau cintai itu harus mengikuti
keyakinan kita atau dia harus menjabat tanganmu untuk yang terakhir kalinya,
demikian kata ayahku” ucap Isty lalu membuang nafasnya kuat-kuat.

“Lantas bagaimana pandangan Ibumu?”

Isty juga bertanya pada Idul.

“Sama, ibuku juga punya pendapat yang sama dengan ayahmu,
mereka punya prinsip yang sama.”

Idul dan Isty hanya bisa saling menatap, saling berharap
untuk mengalah demi kelanjutan hubungan mereka.  

“Gila… hidup ini gila.”

“Iya… gila… dan kita akan menyikapinya dengan cara yang lebih gila.”

“Kalau begitu, kamu saja yang mengikuti keyakinanku.”

“Tidak!!! Keyakinanku sudah benar.”

“Islam lebih benar.”

“Kristen lebih benar.”

“……..Egois!!!”

Keyakinan memang persoalan ego, tepatnya ego yang tertanam
sejak lahir. Keyakinan adalah rantai ideologi turun-temurun yang tak bisa
diputuskan begitu saja. Kebenarannya mutlak, kebenarannya tidak untuk
diperdebatkan tapi untuk dilaksanakan atas dasar keikhlasan. Kebenaran tidak
ditentukan oleh besarnya rasa. Mungkin Isty dan Idul belum sempat memahaminya.

“Kebenaran?… kita terlalu muda untuk membicarakannya.”

Namun dengan kondisi yang semakin terjepit itu, keduanya
masih mencari celah untuk menemukan jalan menuju ruang yang lebih lapang.
Teringat dengan nasehat Ibu Norma, wali kelas mereka “kecerdasan manusia diukur
dengan mampu tidaknya seseorang menyelesaikan masalah”. Karenanya, Idul dan
Isty adalah dua sosok yang tak mudah menyerah terhadap masalah yang dihadapi.

Kali ini mereka mencoba menjawab masalahnya dengan cara yang
cukup berani. Mereka sepakat untuk tidak pernah bertemu dalam jangka waktu
sebulan. Mereka akan kembali ke rumah masing-masing untuk memperdalam
pengetahuan tentang agama yang mereka yakini. Rencananya, bulan depan, mereka akan kembali
bertemu di tempat itu. Mereka akan berdebat tentang “kebenaran agama
masing-masing”.

“Agama siapa yang lebih benar, maka dialah yang pantas untuk
diikuti.”

“Sepakat”

Bila saat pertemuan itu datang, mungkin mereka akan kembali
dengan dua kemungkinan, kata “syahadat atau haleluya”. Dan yang pasti, salah satu di antara mereka juga akan
meninggalkan orang tua dan keyakinannya.

Setelah pertemuan itu, Isty menjadi lebih sering ke gereja,
bertanya panjang lebar kepada pendeta, membuka Injil lalu mendiskusikan pada
ayahnya. Sementara Idul memperbanyak buku-buku yang berisi tentang ajaran Islam,
tiap malam buku itu dibaca. Idul juga sering berlama-lama di masjid, setelah shalat ia selalu
berdoa dan berzikir sebatas kemampuan dan pengetahuannya.

“Ya Tuhan jelaskan padaku, tentang arti semua ini.”

***

Hal itulah yang meresahkan Idul malam itu. Besok ia akan bertemu dengan Isty, sebagaimana ikrar
perjanjian mereka sebulan yang lalu. Hatinya seperti tercabik
oleh kuku Iblis yang begitu tajam. Seerti dalam kereta waktu, Idul adalah
penumpang yang ingin segera melompat sebab ia mulai ragu kalau arahnya sedang
tersesat. Sayang ia tak menemukan pintu untuk keluar dari pusaran
kegelisahannya. Ingin meneriaki sang masinis, tapi mulutnya dibungkam oleh keterbatasan akal.
Apapun yang dipikirkan akan sia-sia, kereta mesti berjalan di atas rel ketetapan yang telah ada, jauh sebelum kehidupan ini
tercipta.

***

Keesokan
harinya, hari minggu jam 9.50

Pertemuan yang disepakati itu tak pernah ada. Setelah malam
yang meresahkan itu, Idul datang di bawah pohon mangga
sebagaimana yang dijanjikan bulan lalu. Di sana, Idul hanya menemukan serakan
bunga-bunga mangga yang tak sempat menjadi buah. Lama ia menunggu, tapi Isty
tak juga datang.

Tapi rasa penasaran Idul segera terjawab. Sebuah pesan
singkat ia terima.

“Isty kecelakaan, segera datang ke Rumah Sakit.”

Sejurus kemudian, Idul meluncur dengan motornya.
Kecepatannya mirip pembalap yang sedang berlaga di atas sirkuit. Setiap detak
jantungnya adalah doa, tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali doa
“selamatkan ia Tuhan”.

Nyatanya ada doa yang tidak bisa mengubah takdir, bahkan tak bisa menubah apa-apa.
Sesampai di Rumah Sakit, Idul melihat kedua orang tua Isty sedang histeris,
menangis, meronta sambil menyebut-nyebut nama Tuhan dan Isty…

Idul segera memahami apa yang telah terjadi. Tubuh Isty
terbujur kaku, nadinya tak berdenyut. Darah banyak melumuri tubuhnya. Orang
yang begitu dicintainya meninggal dunia. Isty adalah cinta pertamanya… mungkin
esok segera tergantikan dengan perempuan lain… siapa yang bisa menebak bentuk
detik setelah detik ini…