Cinta dan ImanHampir tidak ada yang berarti malam itu, malaikat-malaikatenggan turun ke bumi. Terlalu banyak masalah di sana. Terlalu banyak manusiayang mengeluh.

Dunia selalu bising oleh rintihan dan ratapan. Mereka tidakpernah puas dengan apa yang dimilikinya. Kantong-kantong naluri tak pernahterisi penuh.Bintang dan benda langit lainnya juga tak berhasrat menjadisaksi atas drama kehidupan manusia. Waktu dibiarkan berputar bebas dalam garisedar takdir para pemimpi dan perajut asa.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Potret kehidupan pada detik itu,sepertii lukisan abstrak dimana hikmah masih terus dipertanyakan. Ada orangyang berhasil menemukannya, tapi sebagian besar lagi hanya terhenti pada dindingkepasrahan.”Mungkin demikian Sang Pencipta mengungkapkan cintanya…”Ia bergumang setelah membuang nafas panjang yang sedari taditersimpan di bilik paru-parunya.

Ia lalu menyimpan beberapa lembar kertaskosong dan sebuah pena di rak bukunya. Tak ada yang sempat ditulis. Tak adanaskah cerita, sebagaimana yang dilakukan pada malam-malam sebelumnya.”Waktunya makan malam nak, ibu telah menyiapkan makanankesukaanmu…!!!”Tapi suara itu tidak ditanggapi.

Beban pikiran menghapussetiap giarah dalam batinnya. Rasa kecapan lidah serta suara-suara yangmenyentuh gendang telinga, tiba-tiba menjadi hambar.”Mengapa tidak dijawab, sakit ya?”Sekali lagi suara itu terdengar dari balik pintu kamarnyayang tertutup rapat, namun tetap juga tidak direspon. Kali ini, suara ibukurang merdu untuk mengecup adrienalinnya yang sedang mati suri.Entah apa yang dapat dilakukan dengan kondisi hati yang sedemikian pekat.Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan. Ia membiarkanbusa menopang tubuhnnya,sebab jiwanya terasa rapuh. Pandangannya dilempar sejauh mungkin, menembuslangit-langit kamar dan melewati batas awan-awan.

Di atas nirwana yang jauhdari hirup-pikuk kehidupan. Di sanalah ia menemukan sosok perempuan yang selama inibanyak mengisi cerita hidupnya. Kekasihnya tidak tersenyum. Di bawah salib Yesus, ia terpasung.

Seluruhtubuhnya terbalut kain putih tipis, yang kalau tertiup angin akan seperti gerakapi yang bergejolak karena membakar hutan cemara, rambutnya juga demikian.Tatapan matanya kosong. Ia memanggil-manggil tapi hanya bibirnya yang bergeraksebab suaranya hilang bersama kekosongan angkasa.”Kemari… kemari…engkaulahyang harus mendatangi dan menetap dalam duniaku!””Tidak… tidak!!! Meski aku sangat mencintaimu.”Ia memaksakan ketegarannya, mata dipejamkan tapi bayanganitu malah semakin jelas.Juga belum saatnya menyesal, sebab hal yang paling sia-siadalam hidup ini adalah penyesalan. Penyesalan hanya pantas bagi mereka yangsedang  berada di alam kubur.

“Semua harus dipertanggungjawabkan… aku tidak ingin mati laludikenang sebagai seorang pecundang,aku harus mendapatkannya.”Tekad dibulatkan, saat ruang hatinya semakin menyempit.Ia adalah Idul, seorang pemuda yang berparas tampan dandiakui oleh guru dan teman-temannya sebagai anak yang cerdas. Sebentar lagi iaakan meninggalkan masa remajanya. Sebuah masa yang dianggap oleh banyak orangsebagai episode hidup yang kaya dengan cerita istimewa.

Masa yang kaya dengandinamika, manis dan prahara kehidupan. Masa remaja, adalah masa yang palingmenentukan. Bila berhasil dilewati dengan baik, maka seseorang telahmendapatkan lebih dari separuh kesuksesan hidupnya, tapi bila menyisakanmasalah, maka akan menjadi beban berat seumur hidup. Sejatinya, masa remaja teramatindah untuk dikenang.Beberapa minggu lagi Idul akan mengikuti ujian akhir diSekolah Menengah Atas. Mestinya hari ini ia mengisi banyak waktu untukmempersiapkan diri dengan banyak mengulangi pelajaran di rumah. Meski termasuksiswa favorit di sekolah, Idultetap harus siap menerima segala kemungkinan buruk saat pengumumannanti. Hasil ujian kadang-kadang berbanding terbalik dengan prestasi siswa dikelas, barangkali ada kekeliruan sistem dalam hal ini.

Setelah tamat  nanti,Idul punya niat untuk kuliah pada Fakultas Sastra. Minat dan bakatnya memangmenulis. Sejak tergabung dalam “lentera” sebuah organisasi di sekolahnya yang mengelolahmedia penerbitan, tulisannya mulai dipuji banyak orang. Oleh teman-temannya, iasering dijuluki sang “Seniman Kata”. Telah banyak puisi dan naskah yangditulisnya, dipentaskan atau dilombakan pada even antar sekolah. Sebagian lagidibiarkan tetap tersimpan dalam buku diari dan file komputernya.”Pahlawan  mengukirnamanya lewat geranat dan dentuman meriam, Ilmuan mengabadikan hidupnya lewatpenemuan ilmiah, semoga orang-orang mengenalku lewat tulisan-tulisan ini kelak.

“”Aku tidak ingin menjadi politisi, sebab kudengar duniapolitik adalah dunia intrik dan kepalsuan.””Aku tidak ingin menjadi pengusaha, sebab aku tidak inginmenghabiskan semua waktuku hanya untuk menghitung keuntungan dan kerugian.””Aku tidak ingin menjadi tenagapendidik, sebab kutakut akan mencelakakan hidup banyak orangdengan nasehat-nasehat yang belum tentu benar.””Aku ingin menjadi sastrawan ibu….”Demikian yang pernah diucapkan pada ibunya saat ditanyatentang cita-citanya.”Kecuali menjadi koruptor, apapun yang kau inginkan akan ibudukung sepenuh hati. Engkau adalah satu-satunya hal yang paling berarti dalamhidup ibu.

Sejak ayahmu meninggal, kupikir kau adalah titipan yang tidak bisadisandingkan dengan apapun di dunia ini. Kau adalah malaikat ibu. Di saat usiasemakin menghimpit, dimana otot-ototku semakin lemah, hanya engkaulah yangkuharap bisa memapahku, mengangkatku saat terjatuh, dan menyiramkan air padanoda-noda yang melekat ditubuhku. Saya tidak bisa membayangkan bagaimanaseandainya kau tidak terlahir sebelum ayahmu pergi, pasti aku seperti rantingkering yang tak punya harapan apa-apa. Orang-orang akan berlalu di sekelilingku, tapi mungkinsaya akan dianggap sebagai orang asing yang tak perlu disapa. Tetesankeringatku akan terjatuh percuma,sebab tanpamu aku hanya menanti ajal.… Kau adalah buktikeberuntungan yang masih tersisa untukku anakku….”Pelukan ibu seperti selimut yang mencairkan kebekuan dunia.

Tapi Idul melupakan semuanya. Satu-satunya yang mengisipikirannya adalah wajah perempuan itu. Ia mencintai dan juga dicintai, tapimengapa masalah masih saja ada. Tidak cukupkah hanya dengan cinta….

“Nyatanya tidak…”Idul mendesah sendiri.Perempuan yang dicintainya adalah Isty. Ia masih satusekolah dan satu ruangan dengan Idul.

Tidak sulit untuk menggambarkan keduasejoli itu. Seragam putih dan abu-abu, saling teraktir di kantin dan bermain basket dilapangan sekolah, atau memanfaatkan momen kerja kelompok untuk saling bertemu.Wali kelas mereka tidak perlu khawatir dengan catatan kehadiran mereka, sebab selainpelajaran, ada alasan yang lebih penting untuk menghadirkan mereka di sekolah.Mereka tak sanggup memikul beban kerinduan.Bagi Idul, Isty tidak hanya cantik, tapi juga baik. Andai didunia ini ada manusia sempurna, maka bagi Idul, orang itu ada pada Isty.Wajahnya cantik meski tidak dipoles dengan aneka bedak, bibirnya akan semakinindah lewat kata-kata dan senyum ramahnya.

Tapi yang paling mengagumkan, diantara kelebihan yang dimiliki, Isty masih tampil dengan sifat sederhana danbersahabat pada setiap orang.Ia seperti bidadari.Ucap Idul setengah berbisik pada Kaddo’, teman sebangkunya.”Biasa saja” tanggap Kaddo’agak dingin.”Tidakkah kau lihat susunan giginya yang sepertirangkaian  mutiara, dan rambutnya yangseperti mahkota ratu… mana ada perempuan yang secantik dia di sekolah ini.””Hiperbola…””Bola matamu yang kurang sensitif.””Matamu yang kurang cerdas menilai.””Terserah apa katamu, yang pasti dia adalah pemandangan yangpaling indah dari yang pernah kulihat.

“”Opstsz  janganberisik.”Waktu itu Isty memperkenalkan diri pada teman-teman barunyadi depan kelas. Lima bulan lalu Isty memang siswi baru di sekolah. Iameninggalkan sekolah lamanya di kampung asal karena mengikuti ayahnya yangpindah tugas.

Ayah Isty  adalah anggota di kesatuan militer.Konstentrasi Idul menyimak pelajaran fisika menjadi terganggu. Yang terpikirkanadalah bagaimana bisa berkenalan lebih dekat dan akrab dengan Isty.

…Sampai akhirnya…Momen itu pun tiba…Saat jam istirahat di kantin sekolah, dimana dua gelas air jerukdan sepiring kentang goreng menjadi saksi.Bagaigunung es di kutub selatan…”Kenalkan, nama saya Abdullah, sering dipanggil Idul…”Dinginnyamembekukakan sel-sel darah…”Kalau saya Cristyna Agata, panggil saja Isty…”Diam…Kosong…Dalamkeramaian…”Boleh saya duduk di sini?””Iya boleh…”LambanmencairDalamdetik-detik keabadian”Sudahlama tinggal di sini?… maksud saya di kotaini.””Lumayan, sekitar tiga minggu yang lalu.””Bagaimana pendapatmu tentang kota ini?””Entahlah, mungkin butuh waktu untuk beradaptasi, tapisepertinya akan menyenangkan, kulihat orang-orangdi sini sangat ramah.””Mengapa pindah ke sini?””Kalau tidak salah, kemarin telah kukatakan di depan kelas.

“”Anggap saja ini pertama kali kita bertemu.””Ayahku pindah tugas, saya dan ibu juga harus pindah.””Sebagai bentuk pengabdian pada negara…””Mungkin iya, tapi mungkin juga bagian dari pengabdiankepada ibudan anaknya.””Pengabdian lahir dari rasa tanggung jawab, pasti ayahmuadalah orang yang bertanggung jawab… dan itu juga berarti kau memiliki seorangayah yang baik.””Memang baik, setiap detik saya merasakannya.””Bagaimana denganmu?””Ayahku juga baik, tapi sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya.

“”Kalau begitu saya minta maaf.””Apanya yang salah.””Aku merasa telah membuatmu sedih dengan mengenangnya.””Saya tidak pernah menganggapnya sebagai kesedihan, sejakkecil ibuku sering mengatakan kalau ayah telah pergi ke surga, mungkin di sanaia sedang menikmati kopi pahit kesenangannya.”Lalusemua cair dan larut dalam keakraban.Mereka terlihat sepertisudah lama saling mengenal.

Mereka menyelami kedalamansamudera rasa, tapi mereka lupa membawa oksigen yang bernama logika.Perbincangan di kantin sekolah, menjadi awal dari ceritaistimewa mereka. Tanpa disadari, mereka berjalan memasuki sebuah dunia dimanapikiran tidak bisa berteori, pasang surut perasaan mematahkan segalanya.Perjalan itu semakin jauh seiring dengan berjalannya waktu. Tapi semakin jauhmereka berjalan, rasanya semakin gelap kisah yang ditempuh.

Komitmen yang tidak diucapkan lewatlisan, tapi hati bisa merasakan, betapa keduanya telah terikat dengan taliimpian yang sama. Mereka tidak ingin terpisahkan.Idul dan Isty menyebutnya sebagai cinta.

Meski pertama kalimerasakan, tapi gejolaknya sangat jauh dari ukuran coba-coba. Entah mengapabisa seserius itu. Usia mereka masih belia, ucapan mereka terlalu lugu untukdipertanggungjawabkan, cita-cita dan perjalanan hidup mereka masih sangatpanjang.

Mungkin sedikit naïf, terutama bila melihat-teman mereka yang justrumenganggap kalau cinta tidak lebih dari sekedar permaianan, pelengkap, ataupembicaraan ringan yang tak punya arti bila dibandingkan dengan mendiskusikanteori atom atau mengulas teori evolusi. “Tapi saya sangat mencintainya…”Untuk kesekian kalinya Idul mendesah. Bantal guling dankepalanya menjadi pelampiasan atas ketersiksaannya. Sementara malam semakinhening, jam digital di sampingnya menunujukkan angka satu. Suara televisi di ruang keluarga dankendaraan juga telah menyepi.Tapi Idul tidak ingin tidur, sebelum ia memastikan kalau esok ia akan mematahkankeyakinan Isty.***Dari sekian banyak persamaan antara Isty dan Idul, ada satuperbedaan yang tidak bisa didamaikan.

Mereka berdiri di antara dua keyakinan yangberlaianan. Idul adalah penganut agama Islam, sementara Isty terlahir sebagaiumat Kristen. Perbedaan yang dulu diabaikan dengan alasan cinta, lalu menjadibatu sandungan juga atas alasan cinta.”Haruskah saya mengakhirinya….”Isty adalah kebahagianku, apakah tidak munafik bila sayamenghapusnya.”Mereka pernah merasakan betul indahnya cinta.

Perbedaanagama bukanlah alasan untuk menutup pintu perasaan. Idul berzikir di Masjid,sementara Isty memuji Tuhan di Gereja. Doa mereka satu, semoga bisa hidup selamanyadalam cinta. “Mungkin perbedaan ini tidak perlu kita risaukan, Tuhan kitasama-sama baiknya, pasti mereka merestuicinta kita.””Tuhanku, telah menebus seluruh dosa manusia.””Tuhanku menjanjikan surga bagi seluruh manusia.””Atau jangan-jangan kita menyembah tuhan yang sama tapi ditempat yang berbeda.””Sangat jauh dari kemampuan pikiran kita, menurutku iniadalah misteri besar yangtidak mungkin disibak oleh siapa pun.

“”Iya, ulangandi sekolah saja tidak beres, padahal soal-soalnya masih dibuat oleh Bapak danIbu guru kita.””Tapi ulanganku beres semua.””Iya… iya… kamu memang Abdullah,siswa yang paling cerdas di dunia.””hahaha…ha.

.”Kalau sedang bersama, pasti senyum dan tawa selalu menghiasdi bibir mereka. Usia yang belia masih memberi warna yang jelas pada karaktermereka, polos dan jenaka. Tapi demikianlah mereka menjalani keseriusan cinta.Bila akhirnya perbedaan itu mulai dirasakan sebagai momok, mungkin sebagaibukti atas berjalannya proses pendewasaan di antara mereka.

Pematangan sikap,emosi, dan pikiran masih terus bergerak menuju titik kulminasinya, cintalahyang mengantarnya dengan lebih cepat, sadar atau tidak disadari.***Di bawah pohon mangga yang sedang berbunga, di atas balaibambu tempat anak sekolah sering bersuka ria menunggu angkutan umum atau jemputandari rumah masing-masing.”Entah mengapa saya merasa kalau hubungan kita mulai terjadimasalah. Saya mulai ragu kalau orang tua kita akan merestuinya.”Kata-kata itu keluar dari mulut Idul dengan sangat pelannamun sangat jelas dalam pendengaran Isty. Ia seperti berada di dalam kubur,malaikat-malaikat akan menghukum atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Tapihukuman apa yang pantas untuk sebuah cinta yang di bangun atas dasar ketulusan.Mendengar ungkapan Idu, Isty terbang dengan sayapimajinasinya, menemui ayahnya yang sedang duduk di teras rumah sambilmempermainkan asap cerutu yang mengepul dari mulut dan lubang hidungnya.

“Tidak, sayatidak bisa menerima kalau putriku mencintai lelaki yang tidak sekeyakinandenganku.””Tapi kami saling mencintai.””Dalam hidup ini, keyakinan tidak bisa dikompromikan dengan apapun.””Apa itu termasuk cinta?… bagaimana bila ayah berada dalamposisi ini?””Persetan dengan cinta, tidakkah kau merasa kalau YesusKristus telah mencintai kita, lebih dari cinta apapun… saya tidak pernah beradadalam posisi itu,sebab saya tidak sudi mencintai perempuan yang beragama lain.

“”Ayah pasti tidak bisa menerima hal ini.”Isty terus saja terdiam, dan Idul mengamati kekasih hatinyaitu dengan cemas.”Mengapa kamu terdiam?” tanyaIdul pelan.”Aku sedang memikirkan kata-katamu, saya juga berfikirdemikian, perbedaan ini sangat sulit menyatukan kita” ungkap Isty.”Aku mencintaimu dan kuharap kau juga demikian.” Idul kembaliberbicara seperti ingin mempertegas hubungan mereka.”Iya, mungkin kita tidak perlu bersumpah untuk itu” timpal Isty. “Akan sangat baik bila kita mencari solusi atas masalah ini.

“Kedengarannya Idul mencoba bijak, tapi Isty hanyamenyambutnya dengan diam.Berfikir, menghayal, mengandai-andai, bercampur menjadikebingungan yang menggunung. Mungkinkah bisa mengambil keputusan tanpa harusmencederai dua hal yang sama-sama sangat dihargai, cinta dan keyakinan.Kadang-kadang hidup seperti tiang gantung, manusia menjadi tumbal atas hasrat merekasendiri. Bila tidak disikapi dengan bijak, pilihan hanya menggiring manusiamenuju titik nadir ikhtiarnya.

Ini bukan soal matematika yang bisa diselesaikan denganrumus dan deret angka, juga bukan soal bahasa yang memainkan kata dan metafora.Isty dan Idul mencoba memahami itu.”Dapat?” tanya Isty.

“Tidak… kamu?” Idul balik bertanya.”Belum” jawab Isty.”Susah…” Idul mendesah.Suara pipit yang beterbangan dan sesekali hinggap diranting-ranting mangga, seperti menyanyikan kidung semangat bagi kedua anakmuda itu. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Burung pun punyacinta, bila terbang pasti akan kembali. Meski bisa terbang ke mana pun, tapimenemui sarang yang telah dibangun atas jerih payah mesti dilakukan sebagaibentuk kesetiaan pada pilihan. “Dapat?” Isty kembali bertanya.

“Iya, tapi sedikit” jawabanIdulringkas.”Yang sedikit itu apa?” Isty memburu, butiran gairah menghias wajahnya. “Kita harus kembali menemui orang tua kita masing-masing” jawab Idul.”Lalu.

..?”butir-butirsemangat berganti cemas di wajah Isty.”Kita akan meminta pertimbangan mereka atas hubungan kita,aku yakin mereka punya cara untuk tidak mengecewakan anaknya” tegas Idul.”Tapi saya ragu dengan hal itu, saya tahu persis karakterayahku.”Isty kurang sepakat dengan kata-kata Idul.”Sudahlah, masalah ini bukan cuma masalah kita.

Biarlah kitatitipkan cinta kita pada kedewasaan dan kebijaksanaan mereka. Siapa lagi yangbisa memberi nasehat kepada kita kalaubukan mereka.”Idul mencoba meyakinkan Isty. Sebelum dewasa, separuh nafaskita masih tertahan dikerongkongan orang tua kita.

Mereka punya ketulusansejati, mereka terlepas dari kepentingan hidup kita. “Kita dan hubungan ini akan baik-baik saja, percayalah.”Idul menggenggam tangan isty, mereka berusaha saling menguatkan,meski dalam hati tersimpan keraguan yang sangat dalam.Selanjutnya Isty hanya bisa mengangguk. Ia harus percayapada kata-kata Idul. Tiga hari ke depan, mereka akan kembali ke tempat yangsama untuk membicarakan tanggapan orang tua mereka masing-masing. Tentu sajamereka berharap agar jemari Tuhan akan terulur dan membelai jiwa orang tuamereka. Sementara dalam hati Idul dan Isty, mungkin juga dalam hati banyakorang, terselip sebuah pertanyaan.

“Bila Tuhan itu satu mengapa ia menampakkan diri secaraberbeda di masjid, di gereja, atau di kuil, bukankah perbedaan itu yang memunculkanbanyak alasan untuk pertumpahan darah dengan klaiman kebenaran dan paradigmayang egois. Atau mungkinkah Tuhan memang banyak, sebanyak keyakinan dankepercayaan manusia, lantas Tuhan mana yang paling berkuasa atas takdir manusia.”***Kembali di bawah pohon mangga yang sedang berbunga, di atasbalai bambu.”Apa yang dikatakan orang tuamu?” Kali ini Idul tidak ingin didahului oleh Isty untukbertanya.Wajah Isty bagai bulan kesiangan. Bibirnya seperti engganuntuk menjawab, meski akhirnya beberapa kata terucap juga dari bibirnya.”Orang yang mencintai dan kau cintai itu harus mengikutikeyakinan kita atau dia harus menjabat tanganmu untuk yang terakhir kalinya,demikian kata ayahku” ucap Isty lalu membuang nafasnya kuat-kuat.”Lantas bagaimana pandangan Ibumu?” Isty juga bertanya pada Idul.

“Sama, ibuku juga punya pendapat yang sama dengan ayahmu,mereka punya prinsip yang sama.”Idul dan Isty hanya bisa saling menatap, saling berharapuntuk mengalah demi kelanjutan hubungan mereka.  “Gila… hidup ini gila.””Iya… gila… dan kita akan menyikapinya dengan cara yang lebih gila.” “Kalau begitu, kamu saja yang mengikuti keyakinanku.””Tidak!!! Keyakinanku sudah benar.””Islam lebih benar.””Kristen lebih benar.

“”……..Egois!!!”Keyakinan memang persoalan ego, tepatnya ego yang tertanamsejak lahir. Keyakinan adalah rantai ideologi turun-temurun yang tak bisadiputuskan begitu saja. Kebenarannya mutlak, kebenarannya tidak untukdiperdebatkan tapi untuk dilaksanakan atas dasar keikhlasan. Kebenaran tidakditentukan oleh besarnya rasa.

Mungkin Isty dan Idul belum sempat memahaminya. “Kebenaran?… kita terlalu muda untuk membicarakannya.”Namun dengan kondisi yang semakin terjepit itu, keduanyamasih mencari celah untuk menemukan jalan menuju ruang yang lebih lapang.Teringat dengan nasehat Ibu Norma, wali kelas mereka “kecerdasan manusia diukurdengan mampu tidaknya seseorang menyelesaikan masalah”. Karenanya, Idul danIsty adalah dua sosok yang tak mudah menyerah terhadap masalah yang dihadapi.

Kali ini mereka mencoba menjawab masalahnya dengan cara yangcukup berani. Mereka sepakat untuk tidak pernah bertemu dalam jangka waktusebulan. Mereka akan kembali ke rumah masing-masing untuk memperdalampengetahuan tentang agama yang mereka yakini. Rencananya, bulan depan, mereka akan kembalibertemu di tempat itu.

Mereka akan berdebat tentang “kebenaran agamamasing-masing”.”Agama siapa yang lebih benar, maka dialah yang pantas untukdiikuti.””Sepakat”Bila saat pertemuan itu datang, mungkin mereka akan kembalidengan dua kemungkinan, kata “syahadat atau haleluya”. Dan yang pasti, salah satu di antara mereka juga akanmeninggalkan orang tua dan keyakinannya.…Setelah pertemuan itu, Isty menjadi lebih sering ke gereja,bertanya panjang lebar kepada pendeta, membuka Injil lalu mendiskusikan padaayahnya. Sementara Idul memperbanyak buku-buku yang berisi tentang ajaran Islam,tiap malam buku itu dibaca.

Idul juga sering berlama-lama di masjid, setelah shalat ia selaluberdoa dan berzikir sebatas kemampuan dan pengetahuannya.”Ya Tuhan jelaskan padaku, tentang arti semua ini.”***Hal itulah yang meresahkan Idul malam itu. Besok ia akan bertemu dengan Isty, sebagaimana ikrarperjanjian mereka sebulan yang lalu. Hatinya seperti tercabikoleh kuku Iblis yang begitu tajam. Seerti dalam kereta waktu, Idul adalahpenumpang yang ingin segera melompat sebab ia mulai ragu kalau arahnya sedangtersesat. Sayang ia tak menemukan pintu untuk keluar dari pusarankegelisahannya. Ingin meneriaki sang masinis, tapi mulutnya dibungkam oleh keterbatasan akal.

Apapun yang dipikirkan akan sia-sia, kereta mesti berjalan di atas rel ketetapan yang telah ada, jauh sebelum kehidupan initercipta.***Keesokanharinya, hari minggu jam 9.50Pertemuan yang disepakati itu tak pernah ada. Setelah malamyang meresahkan itu, Idul datang di bawah pohon manggasebagaimana yang dijanjikan bulan lalu. Di sana, Idul hanya menemukan serakanbunga-bunga mangga yang tak sempat menjadi buah. Lama ia menunggu, tapi Istytak juga datang.

Tapi rasa penasaran Idul segera terjawab. Sebuah pesansingkat ia terima. “Isty kecelakaan, segera datang ke Rumah Sakit.

“Sejurus kemudian, Idul meluncur dengan motornya.Kecepatannya mirip pembalap yang sedang berlaga di atas sirkuit. Setiap detakjantungnya adalah doa, tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali doa”selamatkan ia Tuhan”. Nyatanya ada doa yang tidak bisa mengubah takdir, bahkan tak bisa menubah apa-apa.Sesampai di Rumah Sakit, Idul melihat kedua orang tua Isty sedang histeris,menangis, meronta sambil menyebut-nyebut nama Tuhan dan Isty…Idul segera memahami apa yang telah terjadi. Tubuh Istyterbujur kaku, nadinya tak berdenyut. Darah banyak melumuri tubuhnya.

Orangyang begitu dicintainya meninggal dunia. Isty adalah cinta pertamanya… mungkinesok segera tergantikan dengan perempuan lain… siapa yang bisa menebak bentukdetik setelah detik ini…