Munculnya media internet memberikan
dampak yang luas bagi peradaban umat manusia. Seiring berjalannya waktu pola
komunikasi dari zaman ke zaman mulai terjadi perubahan. Tak terkecuali media
massa, saat ini banyak media massa yang memanfaatkan media internet untuk
mendistribusikan informasinya. Hal tersebut disebabkan karena khalayak yang
mulai bermigrasi untuk konsumsi informasinya ke media berbasis internet.

Dari perubahan tersebut juga mempengaruhi
pola bisnis yang diterapkan pada media massa seperti media cetak, media
penyiaran, dan lainnya. Untuk mempertahankan perusahaan medianya, ada yang
awalnya berbasis media cetak beralih ke media internet atau media online. Ada
juga perusahaan media yang masih mempertahankan media cetaknya tapi juga
menjalankan media online. Selain media lama yang ingin tetap eksis, banyak juga
perusahaan media yang lahir dari munculnya internet.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Adanya internet memberikan kemudahan
bagi konsumen maupun pelaku industry media itu sendiri. Pada segi pelaku media
dapat memberikan efisiensi pada produksinya dan distribusinya dalam penyebaran
informasi. Sebagai contoh pada media cetak masih dibutuhnya kertas dan tinta
untuk kegiatan produksinya dan pada distribusi masih diperlukannya agen atau
loper Koran agar informasi yang disebarkan bisa didapat oleh pembaca. Berbeda dengan
media online yang memangkas kedua kegiatan tersebut, cukup dengan mengupload
informasi kedalam internet. Informasi yang sudah berupa online tersebut bisa
dibaca oleh banyak orang pada satu waktu dan bisa digunakan di banyak tempat,
selain efisien juga memberikan dampak efektif.

Fokus Diskusi

Dalam sudut pandang ekonomi politik
yang dikemukakan oleh Vincent Mosco, bahwa sebuah media sebagai institusi
sosial dan juga institusi bisnis dihadapkan pada tiga tahap atau konsep dasar
yaitu komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi. Dari ketiga konsep tersebut
bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Apalagi adanya komodifikasi yang menjadi
penting dalam komunikasi karena prosesnya akan memberikan sumbangan dalam
proses komodifikasi ekonomi secara menyeluruh.

Menurut Vincent Mosco (1996) komodifikasi
itu sendiri adalah “upaya yang dilakukan oleh media massa dalam merubah
segalanya agar dapat dijadikan sebagai alat penghasil keuntungan.” Komodifikasi
diurai menjadi tiga yaitu terhadap konten, audiens/pembaca, dan pekerja. Pada
segi konten dilakukan untuk menarik perhatian khalayak atau pembaca, sehingga
konten yang menarik tersebut bisa disisipkan iklan dan pada akhirnya memberikan
pemasukan bagi perusahaan. Sementara terhadap pekerja, dilakukan pada saat
bagaimana proses eliminasi pekerjaan yang sudah dilakukan pekerja sehingga ada
manipulasi laporan penerimaan gaji, yang dikurangi dari semestinya.

Kedua adalah spasialisasi, yaitu usaha
perusahaan media untuk memangkas waktu dan tempat, serta memaksimalkan
keuntungannya dengan menggunakan teknologi internet. Spasialisasi terbagi
menjadi dua arah yaitu horizontal intergration dan vertical intergration. Horizontal
intergration, yaitu usaha sebuah perusahaan untuk mengembangkan usahanya di
berbagai bidang. Dan sedangkan vertical integration, yaitu upaya control yang
dilakukan pemilik perusahaan media ke anak perusahaanya, untuk menyamakan
landasan pemahaman dalam bekerja perusahaan media tersebut.

Sedangkan strukturasi merupakan lanjutan
bentuk vertical integration pada spasialisasi yang berkaitan dengan proses
produksi di media massa akibat perbedaan tingkatan antara pekerja dan pemilik
perusahaan, sehingga saling mempengaruhi dalam menjalankan perusahaan media
tersebut. Pada penulisan penulis hanya fokus pada satu konsep saja yaitu
komodifikasi.

Masih dalam kajian Mosco, praktiknya
komodifikasi dapat mencakup dalam tiga kategori, yaitu: komodifikasi isi,
komodifikasi khalayak, dan komodifikasi cybernetic. Pada komodifikasi isi
merupakan proses mengubah pesan dari sekumpulan data ke dalam suatu makna yang
dapat dipahami oleh khalayak. Hal tersebut ada pada ruang redaksi bagaimana
informasi tersebut diolah semenarik mungkin agar khalayak yang membaca bisa
tergiring pada arah yang ditentukan oleh tim redaksi.

Komodifikasi khalayak yaitu khalayak
berperan penting dalam untuk media massa untuk mendapatkan pemasukan dan iklan.
Hal ini berkaitan dengan institusi bisnis seperti pengiklan, biro iklan atau
lainya untuk menyempurnakan komodifikasi ini. Pemanfaatan pada tenaga kerja
juga untuk kegiatan produksi dan distribusi agar sebuah konten bisa dinikmati
oleh banyak pembaca. Maka komodifikasi khalayak cukup berperan penting untuk
keberlangsungan institusi media.

Dalam komodifikasi cybernetic dibagi
meliputi komodifikasi instrinsik dan ekstrinsik. Pada komodifikasi instrinsik
adalah tinjauan layanan jasa rating khalayak oleh media, sehingga yang
dipertukarkan bukan pesan khalayak akan tetapi nilai rating yang dihasilkan.
Sedangkan komodifikasi ekstrinsik merupakan proses komodifikasi yang menjangkau
seluruh kelembagaan pendidikan, informasi pemerintah, media dan budaya yang
diharapkan menjadi pendorong bagi khalayak sehingga tidak semua orang dapat
mengakses produk media. Maka komodifikasi cybernetic menjadi penilaian public
tentang bagaimana media itu bisa menyesuaikan persepsi yang sesuai oleh selera
publik, dimana isi persepsi media tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan
dalam mengelola media.

Pada laporan atau report dari
kunjungan wawancara ini, penulis memfokuskan pada proses komodifikasi nilai dan
konten informasi pada perusahaan media Kabarnesia Group. Berikut profil singkat
dari media Kabarnesia group yang penulis kunjungi.

Kabarnesia group berdiri pada tahun
2010, namun beberapa tahun lalu sempat hiatus atau berhenti. Dan pada tahun
2017 mencoba merintis kembali dalam ranah media massa berbasis online. Pada
kanal kabarnesia pada fokusnya berisi mengenai berita hukum, internasional,
nasional dan politik. Kabarnesia juga membawahi beberapa media yaitu berkaitan
teknologi bernama teknonisme.com, mengenai kesehatan yaitu sehatnesia, dan
berita seputar ibu kota Jakarta bernama Jakartapintar.com.

Pembahasan

Berawal dari keresahan adanya berita
hoax, kabarnesia muncul dengan motto “Positif dan Komprehensif”. Dengan
kemampuan media online bisa melebihi media cetak, tanpa dibatasi oleh jarak dan
waktu, membuat informasi yang disampaikan menjadi lebih cepat  dibanding media cetak. Terlebih pada tampilan
kabarnesia.com yang bisa berganti informasi pada satu waktu. Berbeda dengan
media cetak yang bisa berganti informasi pada satu tapi pada terbitan hari itu
saja atau terbatas dalam berganti informasi.

Pada headline sebuah media online
sengaja menggunakan kata-kata provoaktif agar pembaca tertarik untuk membuka
dan membaca isi halaman tersebut. Dalam hal itu penyebaran informasi di media
online semakin mudah dengan adanya hypermedia. Salah satu kelebihan hypermedia
yaitu dapat menghubungkan satu berita kepada berita lainnya yang masih
bersangkutan. Kabarnesia juga menggunakan social media sepeti facebook dan
twitter untuk penyebaran atau menyebarluaskan informasinya kepada pembaca atau
khalayak.  Hal itu berkaitan dengan
headline yang provoaktif agar pembaca membuka isi berita tersebut dari
penyebaran yang ada di media social.

Informasi merupakan kebutuhan dan
juga keinginan dari khalayak atau pembaca. Khususnya media cetak yang merupakan
media massa tertua. Namun pesatnya teknologi informasi membuat peluang besar
bagi media online untuk eksis masa saat ini. Ditambah dalam memangkas proses
produksi dan distribusi pada media internet.

Apalagi menjamurnya media online
membuat informasi yang ada semakin variatif untuk khalayak. Tapi banyaknya
informasi membuat pembaca sulit untuk memilih informasi mana yang berkualitas
maupun yang tidak berkualitas. Informasi yang tadinya menambah wawasan pembaca
bisa menjadi distorsi, akibat terlalu banyaknya informasi yang benar maupun
tidak benar.

Menurut founder Kabarnesia group
bernama Faris Biladi. Pada isi pembahasaan komodifikasi, Faris mengatakan bahwa
nilai informasi di era sekarang diartikan sebagai obat, bila informasi diterima
oleh masyarakat bisa menambah wawasan. Namun bila informasi yang diterima
berlebihan bisa menjadikan racun. Berkaitan dengan perbedaan pada era sekarang
dengan adanya internet dengan sebelumnya atau analog, Faris menyatakan pada
pendistribusian informasi yang cepat pada era sekarang tetapi cepatnya
informasi dari banyaknya media membuat terjadinya distorsi informasi atau racun
kepada masyarakat.

Fariz juga menambahkan bahwa hadirnya
media non mainstream yang tidak menggunakan prinsip-prinsip jurnalistiknya
memperkuat adanya distorsi informasi. Sehingga timbulnya berita hoax atau belum
jelas kebenarannya beredar di media online.

Pada perbedaan nilai jual media saat
ini, Faris membaginya menjadi dua bagian yaitu pelaku bisnis dan penerimaan
informasi. Pada segi pelaku bisnis saat ini sangat dimudahkan karena adanya
internet, cukup membuat website dan digital marketing. Berbeda dengan era
sebelumnya diperlukan modal yang besar untuk mendirikan sebuah perusahaan
media. Lalu pada sisi penerimaan informasi saat ini lebih cepat disampaikan
pada masyarakat dan bisa mendapatkan informasi dari berbagai negara, sehingga
menambah wawasan bagi khalayak yang menerimanya.

Untuk pengaruh proses produksi di
Kabarnesia, Faris Biladi menegaskan bahwa pada medianya menerapkan kaidah-kaidah
jurnalistik seperti cover both side serta menolak adanya berita hoax yang
berawal dari keresahannya saat mendirikan perusahaan Kabarnesia ini. Menurutnya
terkait rating saat ini belum menjadi fokus utama di Kabarnesia, yang menjadi
fokusnya yaitu mendiferensiasi konten. Dimana terdapat satu konten yang sedang
trending, lalu media ini mengulas pada sudut pandang berbeda yang belum dibuat
oleh media lain. Faris juga menambahkan hal ini tidak dalam mengambil konten
kontroversial yang belum terklarifikasi.

Selain itu menurut Faris peran
pekerja media selain berlandaskan pada prinsip-prinsip jurnalistik, peran media
juga merupakan corong masuk informasi, di mana informasi tersebut untuk dikaji
kembali oleh masyarakat. Di media ini juga lebih mengutamakan isi informasi
yang lebih bermanfaat atau bernilai dibanding mengejar trending dan traffic.

Menurut Faris, pada perusahaan media
Kabarnesia menggunakan bundling kepada klien atau pemerintahan. Sebagai contoh
sebuah kegiatan yang diadakan oleh klien dan media tersebut diundang untuk
dipublikasikan secara online kepada khalayak. Dengan bersifat end-to-end, media
membuat konten itu sendiri dan juga mempublikasikan sendiri. Menurut Founder
Kabarnesia sendiri nantinya bisa memonitor bagaimana perkembangan dari kegiatan
kliennya melalui dari beberapa media Kabarnesia itu sendiri.

Kesimpulan

Sebagai
salah satu media online yang mengutamakan kaidah-kaidah jurnalistik, Kabarnesia
kembali bangkit pada tahun 2017 karena keresahannya terhadap berita-berita yang
belum jelas kebenerannya. Selain menerapkan prinsip jurnalistik, media ini
dalam proses pembuatan informasinya memiliki cara yang berbeda yaitu menggiring
khalayak untuk melihat sudut pandang yang berbeda agar pembaca tidak hanya
terfokus pada satu sudut saja dan juga menambah wawasan pada informasinya
tersebut. Hal tersebut menjadi nilai informasi tersendiri bagi Kabarnesia untuk
memberikan konsumsinya kepada pembaca.

Karena
media ini baru kembali muncul Kabarnesia saat ini belum berpatokan pada rating.
Menjadi focus pada media ini kepada diferensiasi konten dengan memberikan
berita berkualitas yang dapat  mencerdaskan
pembaca.